Just another WordPress.com weblog

Archive for Oktober, 2009

Gempa perlu masuk kurikulum

JAMBI, KOMPAS.com — Anggota DPR, Ny Ratu Munawwaroh Zulkifli, mengusulkan agar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi memasukkan gempa bumi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, khususnya di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh serta daerah sekitarnya yang merupakan daerah rawan gempa.

“Melalui proses pembelajaran di sekolah, anak-anak dan masyarakat akan mengetahui cara-cara menghadapinya dan upaya menyelematkan diri jika terjadi gempa,” katanya di Jambi, Minggu (4/10), menanggapi hasil kunjungannya ke lokasi dan korban gempa di Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin, Sabtu (3/10).

Anggota DPR asal Partai Amanat Nasional (PAN) dari daerah pemilihan Provinsi Jambi itu, Sabtu, bersama Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin dan pejabat setempat meninjau lokasi dan korban gempa bumi di Kerinci dan Merangin.

“Dengan dipelajarinya gempa bumi, diharapkan bencana alam itu bukan lagi sesuatu yang menakutkan karena masyarakat sudah memahami dan mengetahui, terutama cara-cara menghadapi dan menyelamatkan diri,” kata Ratu Munawwaroh seperti dikutip Antara.

Saat ini sudah banyak dijual film-film yang mengajarkan bagaimana hidup di daerah rawan gempa, misalnya di Jepang, masyarakatnya saat ini tidak lagi panik jika menghadapi gempa karena sudah tahu persis cara menghadapinya dan upaya menyelamatkan diri, di samping mereka juga menguasai teknologi dalam membuat bangunan tahan gempa.

Ratu juga berharap, ke depan, pemerintah hendaknya tidak hanya fokus memikirkan upaya mengatasi pascagempa, tapi juga bisa memikirkan berbagai upaya dalam menghadapi gempa bumi.

Selain itu, pemerintah daerah juga membentuk Desa Siaga Gempa untuk menyosialisasikan berbagai upaya penanggulangan gempa dan mengenali wilayah tempatnya bermukim sehingga jika terjadi gempa lebih siap menghadapinya.

Kabupaten Kerinci pada Kamis (1/10) dilanda gempa berkekuatan 7,0 skala Richter pukul 08.52 dengan lokasi gempa berada di 46 kilometer tenggara Sungaipenuh, Ibu Kota Kerinci, di kedalaman 10 kilometer.

Kerugian akibat bencana gempa bumi Kerinci dari hasil pendataan sementara mencapai Rp100 miliar lebih.

Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin minta agar ke depan masyarakat Kerinci yang akan membangun rumah harus mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) terlebih dahulu.

“Dengan memiliki IMB, pembangunannya akan diawasi, termasuk material yang harus digunakan. Pejabat yang berkompeten agar benar-benar mengawasi sehingga bangunan atau rumah yang didirikan benar-benar baik kuat jika terjadi gempa,” katanya.

Kepada Bupati Kerinci dan Penjabat Wali Kota Sungaipenuh, Gubernur meminta agar segera membuat peraturan daerah tentang IMB, termasuk kabupaten lainnya. Hal tersebut perlu diterapkan mengingat banyaknya rumah dan bangunan yang roboh akibat gempa Kerinci, hal itu juga menunjukkan masih rendahnya kualitas bangunan.

Robot Buatan Anak-anak, Ide Sederhana tapi Brilian

Robot Buatan Anak-anak, Ide Sederhana tapi Brilian

Kamis, 30 Juli 2009 | 10:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepintaran dan kreativitas anak-anak semakin cemerlang. Tidak hanya orang dewasa yang bisa bikin robot, anak kecil siapa bilang enggak bisa. Di perhelatan akbar INAICTA 2009, banyak siswa-siswi SD ataupun SMP yang mengembangkan robot untuk dinominasikan.

Uniknya, banyak dari mereka yang bikin robot dengan tema membantu pekerjaan rumah tangga. Ada robot pembersih ruangan hingga mengepel. Idenya pun sederhana dan agak berbeda dengan minat pengembangan robot di kalangan mahasiswa yang umumnya lebih kepada keterampilan robot dan kecerdasannya.

Siswa di SMP Penabur Gading Serpong, Michael Limanto, Gerald Sebastian, dan Patrick Wicaksono, membuat robot Delta Easy Water Supply. Idenya kan orangtua capai baru pulang kantor. Anak disuruh ngambil air minum mengapa enggak dispensernya jalan aja sih, kata Michael, si pencetus ide awal, kemudian ia bergabung dengan dua temannya untuk membuat implementasinya.

Jadi, kalau capai ambil minum tinggal pakai remote memanggil robot berbentuk botol air minum ukuran 1 liter dengan roda di bawahnya. Robot tersebut layaknya manusia punya dua lengan, yang kanan berbentuk wadah untuk menaruh gelas kecil dan yang kiri berbentuk sedotan yang terhubung dengan botol yang berisi air minum. Robot tersebut akan mengeluarkan air minum dari sedotan ke gelas.

Ini juga bisa diisi teh atau kopi. Pengennya generasi ke depan bikin heater dan enggak cuma botol, tapi diganti pakai galon, kata Gerald yang masih duduk di kelas II SMP. Adapun dua temannya yang lain duduk di kelas III SMP.

Robot ini sangat murah dan unik. Ada lampu mainan anak-anak biar keliatan kalau mati lampu, pompa whiper mobil bekas, kardus, koran, sumpit buat nahan-nya, botol air minum, kaca, dan acrylic. Ada sensor untuk anterin ke orang yang haus dan sensor berat, ujar Patrick dan Gerald.

Lain lagi dengan Miskawain Hendrawan, murid kelas IV SD Techno Nature. Ia beserta tiga kawannya membuat robot pemblender. Seperti namanya, kita bisa langsung tahu fungsinya. Robot ini terdiri atsa interface, batere, teko, dan dua silet sebagai pisau blendernya.

Lucunya ia belum pernah mencobanya untuk memblender apa pun. Paling cabai, ujar Miska. Ia juga mengakui, semua alat pinjam dari sekolah. Kalau menang nanti dibongkar, alat-alatnya dibalikin ke sekolah, ungkapnya dengan polos. Ia sendiri juga mengaku presentasi karya tersebut sendirian karena tim yang lain sakit dan berhalangan hadir.

Cita-cita kalau sudah gede pengin buat robot lagi, tuturnya.

5 Tahun Bekerja, Depdiknas Dinilai Gagal!

Di sadur dari koran kompas edisi Selasa, 8 September 2009 | 15:30 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Frans Agung Setiawan

JAKARTA, KOMPAS.com – Dibandingkan tahun 2005 lalu, alokasi anggaran pendidikan wajib belajar Departemen Pendidikan Nasional meningkat tajam pada 2009, dari Rp. 10,8 triliun menjadi Rp31,6 triliun. Tapi masalahnya, strategi Depdiknas untuk melakukan pemerataan dan perluasan akses masih belum jelas.

‘Ada tiga indikator yang bisa kita lihat,’ kata Program Manager Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan di Jakarta, Selasa (8/9), dalam Presentasi Evaluasi Kinerja Depdiknas 2004-2009. Acara ini juga dihadiri oleh Lody Paat, Koordinator Koalisi Pendidikan, Bambang Wisudo Direktur Eksekurif Sekolah Tanpa Batas, serta Jumono dari Aliansi Orangtua Murid Peduli Pendidikan.

Indikator tersebut adalah pertama, dilihat dari strategi pembiayaan. Anggaran memang besar, tapi jatah untuk program wajib belajar tersebut ternyata disebar ke semua direktorat.

Contohnya, dari total alokasi Rp 31,6 triliun anggaran 2009 yang dikelola direktorat manajemen pendidikan dasar dan menengah hanya dapat Rp. 20,4 triliun. Sisanya disebar ke semua direktorat, termasuk ditjen, dikti dan itjen, tuturnya.

Indikator kedua adalah strategi program. Program yang paling diandalkan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor pendidikan. Namun, alokasi ini jauh dari sasaran karena tidak sesuai dengan kebutuhan faktual peserta didik yang diteliti oleh Depdiknas.

‘BOS untuk SD Rp. 400 ribu/murid/tahun, padahal kebutuhannya Rp. 1,8 juta/murid/tahun. Sedangkan SMP Rp. 575 ribu/murid/tahun dengan kebutuhan Rp. 2,7 juta/murid/tahun,’ tutur Ade.

Ketiga adalah komodifikasi sekolah gratis. ICW bersama Koalisi Pendidikan menilai, program sekolah gratis tersebut gagal. Namun, menjelang Pemilu 2009 Depdiknas justru membuat iklan, bahwa mereka berhasil melaksanakan program tersebut.

Depdiknas sangat tidak sensitif terhadap kondisi sekolah dan warga, karena iklan sekolah gratis Depdiknas malah menyulut konflik di sekolah, terutama antara guru dan orangtua murid, demikian Ade Irawan.

Sumber: Kompas.Com

Awan Tag