Just another WordPress.com weblog

Archive for Desember, 2008

Ibu Enita Say ” Selamat Tinggal Sekolah Nommensen Jambi”

Jambi 24 Desember 2008.  Sejak dinyatakan lulus tes PNS di daerah Balige – Sumatera Utara. Maka sejak saat itupula Ibu enita Siahaan tidak akan lagi mengajar di Sekolah Nommensen Jambi.

Maka tanggal 12 Januari 2009 akan diadakan perpisahan terakhir buat Ibu  guru yang satu ini.

Semoga ditempat yang baru ibu semakin sukses dalam mencerdaskan anak-anak bangsa ini.

Selamat jalan Ibu Enita sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

Perayaan Natal Sekolah Nommensen Jambi 2008

natal-31Jambi 16 Desember 2008. Tepat jam 2 siang saatnya dimulai perayaan natal sekolah siswa-siswi dan semua guru beserta para undangan dari orang tua datang untuk menghadiri perayaan natal sekolah SMP-SMA Nommensen Jambi. semua bersuka cita dalam pelaksanaan tersebut. Siswa siswi menampilkan kebolehannya dalam memuji nama Tuhan. Semua patut diacungkan jempol. Semoga semua yang hadir bisa mengambil inti sari dari perayaan natal tersebut.

Berikut ini adalah foto yang bisa diambil dari perayaan natal tersebut :

natal-14         natal-71

      Ini adalah foto saat pendeta siagian menyampaikan firman      Tuhan.

Membentuk Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Lingkungan

kondisi-belajar

GURU seringkali mendapat tuntutan dari orang tua siswa tentang peningkatan prestasi akademik atau harapan tentang perubahan perilaku anak-anaknya, seolah-olah bagus atau tidaknya prestasi dan perilaku siswa sepenuhnya tanggung jawab guru.

Tentu saja tanggung jawab sebesar ini tidak pantas diemban hanya oleh sekolah, khususnya oleh para guru. Karena bagaimanapun ada lingkungan lain di luar sekolah yang ikut berperan memengaruhi kondisi siswa baik secara akademik maupun perilaku, yaitu lingkungan keluarga dan masyarakat.
Lingkungan keluarga sebenarnya adalah lingkungan pertama dan utama yang dikenal oleh anak. Lingkungan keluarga merupakan peletak dasar pembentukan kepribadian anak. Bahkan sampai jenjang dewasa keluarga tetap memiliki peran yang besar pengaruhnya terhadap anak meskipun anak memiliki lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya.
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan baik orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial.
Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi remaja. Peran orang tua dan keluarga adalah sebagai penuntun, sebagai pengawas, dan pemberi contoh (Ki Hajar Dewantara, 1962; dari Wayan Andhara, 1986).
Ditambahkan Wayan Andhara (1986), lingkungan keluarga sungguh merupakan pusat pendidikan yang penting dan menentukan. Keluargalah tempat dasar pembentukan watak pribadi dan juga pembentukan sosial.
Dueroley pernah mengemukakan, 70 persen dari anak-anak yang jatuh ke jurang kejahatan berasal dari keluarga yang rusak kehidupannya. Oleh karena itu, untuk memperbaiki keadaan masyarakat, perlu adanya pendidikan keluarga.
Selain orang tua, lingkungan masyarakat juga berperan penting dalam pembentukan pribadi anak. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat ini saling memengaruhi dan saling bergantung satu dengan lainnya.
Karena itu, peningkatan kualitas sekolah tidak akan berarti banyak manakala tidak diiringi peningkatan kualitas keluarga dan masyarakat. Untuk itu, kesamaan tujuan, program pembentukan anak, dan lain-lain harus saling mendukung dan melengkapi antara ketiganya sehingga bisa selaras, sejalan, dan bersinergi.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan agar terjadi sinergi antara ketiganya adalah sebagai berikut. Pertama, membangun hubungan kemitraan sejajar antara guru (sekolah) dan orang tua. Guru dan orang tua siswa adalah mitra yang bersama-sama berusaha membantu siswa untuk berkembang ke arah tujuan yang diharapkan, tidak  ada yang lebih tinggi atau lebih rendah sehingga masing-masing bisa saling bertukar pikiran dan mengkritisi setiap proses yang dilakukan pada anak tanpa merasa canggung atau malu.
Kedua, adanya keterbukaan dan ketersambungan program antara program sekolah dan program di rumah. Keterbukaan sangat diperlukan. Keterbukaan yang diiringi dengan niat baik untuk menerima seandainya ada kritik yang sampai baik itu pada guru maupun pada orang tua. Setiap pola pendidikan anak di rumah sebaiknya tersampaikan ke sekolah dan sebaliknya juga begitu program sekolah harus terealisasikan kepada orang tua siswa. Lembaga keluarga memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga sudah seyogianyalah memiliki program-program yang terencana.
Ketiga, adanya komunikasi antara orang tua dan sekolah dalam pelaksanaan proses pendidikan baik itu di rumah maupun di sekolah yang dilakukan minimal sebulan sekali sebagai langkah evaluasi program di sekolah dan di rumah.
Keempat, bersama-sama orang tua dan sekolah melakukan kontrol sosial terhadap masyarakat, membuat dan menciptakan lingkungan yang sehat bagi perkembangan anak-anak. Melakukan kontrol dan kritik terhadap berbagai media yang menayangkan hal-hal yang tidak sehat bagi anak-anak.
Kelima, sekolah dan orang tua serta masyarakat menciptakan lingkungan yang membangun motivasi anak untuk terus berkarya dengan mendukung setiap kegiatan positif mereka atau mengadakan lomba-lomba yang merangsang kreativitas anak.
Kerja sama yang baik antara semua komponen inilah yang akan menghasilkan pendidikan yang berkualitas yang pada akhirnya manusia-manusia Indonesia yang akan lahir berikutnya adalah generasi-genarasi yang tangguh yang mampu membawa perubahan dan bahkan memimpin perubahan dunia ke arah yang lebih baik. (*)

SELAMAT ULTAH IBU GURU

Ibu-766hi-ULTAH

Tepat tanggal 22 November 2008 Kemarin. Ibu Guru Silalahi berulang Tahun yang ke – 54. Anak anak sangat gembira. Mereka menyediakan kue Tart sambil mnyanyikan lagu Happy Birthday.

Selamat Ulang Tahun Ibu Guru

 

Selamat ulang Tahun Guruku

Semoga Panjang Umur dan Sehat-sehat selalu.

Amin…3x.

Awan Tag