Just another WordPress.com weblog

Banyak orang tua yang mengeluh bahwa mendidik anak jaman sekarang itu tidak gampang, bahkan dirasakan jauh lebih sulit dari pada mendidik anak-anak jaman dulu. Hal ini tidak sepenuhnya salah, walaupun sebenarnya setiap masa itu ada tantangannya sendiri2 sesuai jamannya. Mendidik anak di jaman sekarang ini memang bisa dibilang gampang, bisa juga tidak. Faktanya memang anak jaman sekarang pasti berbeda dengan anak jaman dulu. Beda dalam segala hal. Jadi kita tidak bisa begitu saja membandingkan keadaan kita dulu sewaktu dididik oleh orang tua kita dengan anak-anak kita jaman sekarang.

Setidaknya ada 3 perbedaan pokok anak-anak jaman sekarang dibandingkan dengan anak-anak generasi terdahulu :

Kemampuan Berpikir

Anak-anak jaman sekarang pada umumnya memiliki kemampuan berpikir yang lebih kritis dalam usia yang lebih awal. Mereka berkembang dalam jaman yang memberi mereka banyak keleluasaan dan stimulasi yang jauh lebih banyak, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang seperti itu. Mengapa kita perlu mengetahui hal ini? Yaitu agar kita siap menghadapinya. Karena sebagian orang tua yang tidak siap menjadikan hal ini sebagai suatu kesulitan. Akhirnya yang muncul adalah pemikiran negatif terhadap anak, misalnya dibilang anaknya suka berdebat, nggak mau kalah, pandai berargumentasi, dan sebagainya. Padahal itu semua adalah hal-hal positif yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir anak itu sangat bagus.

Cara Pandang

Anak-anank jaman sekarang seringkali memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita, sehingga pada akhirnya mereka sering beradu argumentasi dengan orangtuanya. Kita para orang tua umumnya terbiasa pada pola pendidikan tradisi yang polanya yang sudah terbentuk. Mungkin mirip seperti kacamata kuda. Misalnya setiap ada persoalan A jawabnya pasti B, persoalan C jawabnya D dan seterusnya. Anak-anak kita tidak lagi berpikir demikian. Mereka kalau melihat sebuah persoalan bisa luas sekali analisisnya. Hal ini sering kali membuat orang tua menjadi tersinggung karena seolah-olah merasa digurui. Orang tua selama ini selalu punya tradisi pemikiaran bahwa mereka selalu lebih dibanding anak-anak kita, dan kita kaget ketika melihat anak-anak kita ternyata punya argumentasi yang jauh lebih luas sudut pandangnya. Ini perlu kita sadari supaya kita siap, dan bersyukur karena memiliki anak-anak dengan wawasan yang luar biasa. Bukannya malah kita merasa dipermalukan atau merasa direndahkan, atau merasa dipandang bodoh oleh anak kita. Justru kita harus bangga memiliki anak-anak seperti itu.

Keberanian untuk Mengungkapkan Pendapat

Ada sebuah pergesaran tradisi pada anak-anak generasi sekarang. Kalau dulu pada umumnya kita takut-takut untuk mengungkapkan pandapat, terutama kepada orang tua. Mungkin karena bangsa kita lama dijajah, maka budaya yang berkembang adalah budaya otoriter. Akhirnya budaya ini terbawa sampai ke rumah tangga sehingga orangtua memiliki otoritas yang luar biasa terhadap anaknya dalam banyak hal : dalam menyatakan pendapat, dalam mengambil keputusan, dal sebagainya. Sehingga ketika si anak memiliki argumentasi, maka ia akan lebih memilih untuk diam. Itu semua terjadi pada jaman kita dulu ketika dididik oleh orang tua kita. Jaman anak-anak kita sekarang ini tidak lagi seperti ini. Kita mulai melihat ada pemberontakan-pemberontakan kepada gurunya di sekolah. Padahal jaman kita dulu, kepatuhah kepada guru itu luar biasa. Hal ini menjadikan sebuah generasi yang patuh. Padahal di dalam kehidupan sehari-hari yang dibutuhkan adalah kreatifitas, penuh daya cipta, penuh argumentasi, punya car pandang yang luas, dan sebagainya. Jadi sebenarnya anak-anak kiat sekarang ini sedang menuju kepada kondisi yang sesuai dengan kebutuhan jamannya. Cuma karena kita dulu dibesarkan di jaman yang berbeda dan kita sering membandingkan dengan cara kita dididik dulu, maka kita sering kali “menahan” perkembangan anak-anak kita untuk tidak ke arah seperti itu. Hal ini terjadi karena kita sering kali punya kebiasaan untuk membandingkan anak-anak kita dengan kita di jaman dulu. Harus kita ingat bahwa anak-anak kita telah tumbuh sesuai dengan kebutuhan jamannya.tugas kita adalah membimbing mereka supaya tidak salah jalan. Mereka sebenarnya telah berjalan ke arah yang sesuai. Kita para orang tua harus mulai belajar untuk menerima perbedaan-perbedaan ini.

Apa yang membuat anak-anak kita menjadi begitu berbeda?

Kita para orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, tapi sering kali kita tidak mau menerima efeknya, bahkan ketika kita tahu bahwa efeknya adalah positif. Kenapa anak-anak kita berbeda? Menurut sebuah penelitian, diantara penyebannya adalah :

Perkembangan Teknologi Media

Perkembangan teknologi media yang sangat pesat sekarang ini akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Coba bandingkan dengan kondisi jaman kita dulu : belum ada internet, stasiun TV cuma satu, nulis surat harus dikirim lewat pos, perlu waktu. Sekarang beragam informasi bisa diakses dengan demikian cepat.

Pola Makan

Saat ini makanan untuk pertumbuhan dan perkambangan anak begitu beragam. Jauh berbeda dengan generasi kita dulu. Susu untuk anak saja sudah dibedakan menurut usianya. Komposisi gizinya sudah jauh lebih baik dibandingkan jaman dulu. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkambangan struktur syaraf-syarafnya termasuk syaraf otaknya. Tentunya hal ini akan sangat berpangaruh terhadap cara berpikirnya.

Budaya

Setiap generasi memiliki budaya yang berkembang. Kita lihat misalnya dari jenis musiknya tentu sangat berbeda. Jaman simbah kita dulu musiknya keroncong, jaman kita dulu musik pop, jaman sekarang hip-hop. Mau tidak mmau kita harus memahami perkembangan budaya yang mempengaruhi perkembangan anak kita. Yang perlu kita perhatikan adalah sisi moralnya. Bukannya kita melarang hip-hopnya tapi kita harus perhatikan sisi moralnya, karena nilai moral itu tidak pernah berubah dari jaman ke jaman. Yang berubah adalah budayanya.

Setelah memahami hal-hal ini sudah selayaknya kita para orang tua bersyukur karena anak-anak kita telah berkembang melebihi jaman kita dulu.

Di dunia pendidikan sekaran ini telah terjadi perubahan yang sangat besar mengenai proses mendidik anak. Dulu orang menerjemahkan proses mendidik adalah membuat anak kita menjadi sesuai seperti keinginan kita. Buktinya, sering kali kita mendengar orang tua berkata : saya ingin anak saya pintar, saya ingin anak saya rajin, dan sebagainya. Konsep pendidikan yang baru telah berubah. Yang disebut mendidik itu adalah membimbing anak sesuai dengan keinginan Allah. Allah pasti telah menyiapkan misi khusus untuk anak kita ketika mereka dilahirkan. Kalau dulu tugas orang tua adalah menetapkan keinginannya supaya diikuti oleh anaknya, maka sekarang tugas orang tua itu adalah membaca tanda-tanda keinginan Allah pada diri anak kita. Pada setiap anak, tanda-tanda itu pasti berbeda-beda. Kalau kita tidak bisa membaca tanda-tanda itu, dan memaksakan keinginan kita kepada semua anak-anak kita, tentu akan menimbulkan konflik antara orang tua dan anak.

Anak-anak jaman sekarang tentu berbeda dengan anak-anak jaman dulu. Hai ni adalah sesuatu yang sangat wajar dan alami. Namun demikian, walaupun kita sangat menyadari hal ini, terkadang kita para orang tua tidak sepenuhnya bisa menerima. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Dalam mendidik anak-anak kita, umumnya para orang tua tidak menyadari bahwa kita salah. Di mata kita , anak-anak kitalah yang penuh dengan kesalahan. Kita punya persepsi-persepsi, dugaan-dugaan yang bersumber dari masa lalu kita, pengalaman kita, yang kita akui itu sebagai sumber kebenaran. Begitu hal itu tidak terjadi pada anak kita, maka dengan segera kita mengatakan bahwa anak kita salah. Inilah yang disebut dengan sudut pandang. Inilah sebenarnya kunci dari persoalan ini. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menempatkan sudut pandang secara tepat dalam melihat anak, karena sebagian besar orang tua melakukan kesalahan dalam menempatkan sudut pandang. Namum umumnya orang tua tidak menyadari hal ini.

Beberapa sudut pandang yang keliru dalam memahami anak :

1. Selalu menilai anak dalam konteks hitam putih

Kita dan anak-anak kita jelas berbeda dalam berbagai hal, dan kita sepakat bahwa hal itu adalah fitrah. Kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah melihat anak hanya dalam konteks hitam putih. Padahal sebenarnya mereka adalah berwarna warni. Salah satu contohnya, orang tua sering membandingkan anaknya dengan mengatakan : “anak saya yang pertama sih pintar, nilainya bagus-bagus, tapi kalo yang nomor dua kayaknya agak kurang”. Ini adalah sebuah pemahaman yang sifatnya hitam-putih, pintar-bodoh, malas-rajin, dan sebagainya. Padahal kalau mau jujur, kita sendiri pun sebenarnya tidak mau hanya dilihat dan dibanding-bandingkan secara hitam-putih. Jadi, mulai sekarang janganlah melihat perbedaan anak-anak kita secara hitam putih, tapi mulailah memahami bahwa sebenarnya anak kita adalah warna-warni. Dengan demikian kita akan melihat sesuatu yang sangat indah dalam diri anak-anak kita.

Sayangnya, sekolah-sekolah kita pun umumnya masih menggunakan pandangan hitam-putih. Jadi kalau misalnya cara belajar di sekolah itu menggunakan cara tertentu, siswa yang kesulitan menggunakan cara itu langsung dianggap bermasalah.

2. Orang tua merasa selalu paling benar

Pada umumnya kita orang tua selalu merasa bahwa, dibanding anak-anak kita, kitalah lebih berpengalaman, sudah makan asam garam, karena kita hidupnya lebih lama, dsb, sehingga kita punya asumsi yang kita anggap benar bahwa orang tua itu selalu benar dan tidak pernah salah. Akhirnya kita orang tua memiliki asumsi-asumsi mengenai benar-salah, baik-buruk, dan sebagainya. Hal tersebut adalah wajar, namun akan menjadi masalah manakala kita mengangggap bahwa apa yang baik bagi kita, kita anggap baik juga buat anak kita. Satu contoh kecil, misalnya kita mengatakan kepada anak kita : “dulu jaman ayah sekolah dulu, nggak ada yang namanya diantar-jemput. Ayah jalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolah. Nggak seperti anak sekarang…”. Maksudnya adalah kita ingin menunjukkan kehebatan di jaman kita. Sebenarnya tugas kita adalah bukan untuk membandingkan jamam kita dengan jaman anak kita untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik, lebih superior, supaya anak kita bisa mencontoh hal yang baik. Ternyata hal itu tidak pernah bisa berhasil. Apalagi kalau kita sampai punya anggapan bahwa jaman kita dulu lebih baik dari jaman anak kita. Yang harus kita lakukan adalah memahami keadaan jaman anak kita.

3. Anak tidak bisa dididik

Kesalahan terakhir adalah merasa bahwa anak kita tidak bisa dididik. Padahal sebenarnya ada beberapa kemungkinan mengenai hal ini. Bisa saja kita orang tua yang tidak bisa mendidik, atau kita belum menemukan cara yang pas untuk mendidik. Jadi jangan sampai kita hanya terfokus pada satu sisi saja bahwa anak kita susah dididik, tapi cobalah kita juga mengevaluasi diri, jangan-jangan kita yang tidak bisa mendidik.

Bila kita perhatikan dalam ajaran semua agama, tidak ada yang mengajarkan bahwa anak itu bermasalah. Yang ada adalah anak itu suci, fitrah, berkah dari surga, dan sebagainya. Sehingga kalau pada akhirnya mereka menjadi benar-benar bermasalah, maka kita harus bertanya pada diri kita siapa yang menyebabkannya menjadi bermasalah? Apakah anak kita yang tidak bisa dididik, atau kita orang tua yang tidak bisa mendidik?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: